Adeefa 1
(Ilalang dan
Semebak Mawar)
Hari itu aku tatap
ilalang
Dalam
kesendiriannya
Membisu... sepekan
yang lalu.
Tetap menggema,
dalam batinku.
“Aku adalah ilalang
yang merindu angin”
Cukupkah dia datang
, lalu pergi?
Seperti orang
banyak itu?
Meski aku mampu ada
di pegununganmu, di pantaimu,
Bahkan pekarangan
rumahmu.
Tak sedetikpun
waktu...
Membiarku
tertengok...
Aku adalah ilalang
Bukan semerbak
mawar
Angin jelas
tersenyum
Membawa semerbaknya
Aku adalah ilalang
Yang kau goyangkan
Hingga aku dimabok
keindahan
Lalu dirobohkan.
Aku adalah ilalang
Yang tak mungkin
keindahan
Kutorehkan.
Bukan mawar dan
semerbaknya.
Brebes, 2018.
A. Dahayu Jitaksara
NEXT... https://wadukmalahayubrebes.blogspot.com/p/adeefa-2-bait-rindu-dadaku-telah-penuh.html
NEXT... https://wadukmalahayubrebes.blogspot.com/p/adeefa-2-bait-rindu-dadaku-telah-penuh.html
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteEnigma
ReplyDeleteSeberkas tanya, menjelma kata;
Apa dan siapa?
Serupa angin,
Semua tak benar-benar nampak.
Lalu di ujung gelisah aku temui
Mimpi-mimpi yang dulu hilang
Berserakan di pelataran senja.
Tepat di bawah kenangan masa silam,
Dan gigil angin yang sebentar lagi malam.
Lalu apakah ada jawabnya,
Dari resah yang melanda.
Menjelma perasaan tak berujung.
Tersebab rindu hanya kata
Yang tak sempat diutarakan mawar
Pada kumbang yg hinggap sesaat,
Lalu lenyap.
Pemalang, 2019
Air
DeleteAku percaya...
Tak mungkin air mengalir
Melaju ke depan pada sungai
Saat mengering, aku lebih mengerti
Kekuatan hati pada merasa.
Itikad indah menyambut.
Menguat bukan melemah.
Mantap
ReplyDelete