Puisi Adeefa


Adeefa  1
(Ilalang dan Semebak Mawar)

Hari itu aku tatap ilalang
Dalam kesendiriannya
Membisu... sepekan yang lalu.
Tetap menggema, dalam batinku.

“Aku adalah ilalang yang merindu angin”
Cukupkah dia datang , lalu pergi?
Seperti orang banyak itu?
Meski aku mampu ada di pegununganmu, di pantaimu,
Bahkan pekarangan rumahmu.
Tak sedetikpun waktu...
Membiarku tertengok...

Aku adalah ilalang
Bukan semerbak mawar
Angin jelas tersenyum
Membawa semerbaknya
Aku adalah ilalang
Yang kau goyangkan
Hingga aku dimabok keindahan
Lalu dirobohkan.

Aku adalah ilalang
Yang tak mungkin keindahan
Kutorehkan.
Bukan mawar dan semerbaknya.

Brebes, 2018. 

4 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Enigma

    Seberkas tanya, menjelma kata;
    Apa dan siapa?
    Serupa angin,
    Semua tak benar-benar nampak.
    Lalu di ujung gelisah aku temui
    Mimpi-mimpi yang dulu hilang
    Berserakan di pelataran senja.
    Tepat di bawah kenangan masa silam,
    Dan gigil angin yang sebentar lagi malam.

    Lalu apakah ada jawabnya,
    Dari resah yang melanda.
    Menjelma perasaan tak berujung.
    Tersebab rindu hanya kata
    Yang tak sempat diutarakan mawar
    Pada kumbang yg hinggap sesaat,
    Lalu lenyap.

    Pemalang, 2019

    ReplyDelete
    Replies
    1. Air

      Aku percaya...
      Tak mungkin air mengalir
      Melaju ke depan pada sungai
      Saat mengering, aku lebih mengerti
      Kekuatan hati pada merasa.
      Itikad indah menyambut.
      Menguat bukan melemah.

      Delete